Nightshadow Guardians | Chapter 1 (part 1)
serizawadindou

 Long time no see XD
Kali ini aku mencoba merilis cerita  bersambung untuk mengisi blog ini supaya tidak jamuran XD Kalau disebut fanfiction.. aku tidak begitu yakin, tapi yang jelas nama - nama tokoh diambil dari nama - nama member Johnny's Entertainment dan Hello! Project, ditambah nama belakang random ahaha
Ide cerita random, spontan apa yang terlintas di kepala. Berhubung saya pecinta novel fantasy, jadi mungkin teman - teman akan banyak menemui hal - hal yang mirip dengan berbagai novel X'''D
Okay, happy reading~
.
.
.

    Sepasang kaki yang kurus melangkah mantap memecah keheningan. Hari sudah malam dan kota mulai sepi, hanya ada dua atau tiga orang yang melintasi sepanjang ia berjalan. Udara malam begitu dingin, menandakan musim dingin akan segera tiba. Pemuda itu merapatkan jaket lusuhnya dan terus berjalan sendirian melintasi jalanan kota, menuju rumah yang dia tinggali bersama dua adiknya. Malam ini akan menjadi malam yang cukup melelahkan, pikirnya.
      Pemuda itu bernama Juri Schwartz. Usianya sembilan belas tahun. Perawakannya tinggi dan ramping, namun tampak kuat. Kulitnya berwarna agak gelap, dengan rambut cokelat tua yang persis seperti rambut ibunya. Ia adalah salah satu prajurit rahasia pengawas aktifitas sihir di kota. Ya, sihir. Juri adalah keturunan dari penyihir tingkat tinggi di kota Emas, yang memutuskan untuk bergabung dengan prajurit pengawas sejak orang tuanya tewas dalam penyerangan  oleh pasukan iblis hitam beberapa tahun lalu. Saat itu usianya masih empat belas tahun, namun telah mengambil keputusan besar yang mengubah hidupnya sepenuhnya.
     Juri mengambil jalan membelok ke kanan. Pintu masuk rumahnya bercat hitam pudar, dihiasi ukiran sederhana seperti rasi bintang, tampak beberapa meter dari tempatnya sekarang. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di teras rumahnya, kemudian menaiki undakan dan membuka pintu dengan kunci yang selalu dibawa di saku celananya. Akhirnya sampai juga di rumah.
     Juri masuk dan melepaskan sepatunya – yang tidak kalah lusuh dengan jaketnya – kemudian memanggil kedua adiknya, “Koji, Ruka, kakak sudah pulang.. Kakak membawa sedikit makanan untuk makan malam kita.” Suaranya sedikit serak, efek setelah bersentuhan langsung dengan cuaca dingin di luar.
     Juri langsung menuju ke ruang tengah untuk meletakkan tas lusuhnya yang tampak cukup berat, kemudian beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam mereka. Kedua adik Juri masuk ke ruang tengah untuk menyambut kakaknya yang baru pulang dari pekerjaannya mengantar lilin – di samping pekerjaan rahasianya, Juri bekerja sebagai penjual lilin untuk menjalani kehidupan normal sebagai manusia biasa – sejak siang hari. Di kota Bintang, lilin merupakan benda penting untuk aktifitas sehari – hari sebagai penerangan, sejak obor tidak lagi digunakan.
     “Kakaaaaaak, aku dan Ruka sudah lapar menunggu kakak pulang, dan akhirnya kakak pulang juga.” Koji terkekeh kemudian mengikuti kakaknya ke dapur untuk membantu.
     “Aku sudah hampir menangkap serigala tadi, namun tiba – tiba buyar saja semuanya.” Ruka baru dibangunkan dari tidurnya oleh kakaknya, Koji ketika Juri datang. Dengan wajah masih mengantuk, ia langsung mengenyakkan diri di kursi meja makan kayu tua yang terletak tepat di bawah jendela yang menghadap ke jalan.
     Kedua adik Juri tidak jauh berbeda dengan kakaknya, sama – sama berpostur ramping dan tinggi. Ruka lebih pendek karena dia perempuan, namun termasuk tinggi di antara teman – teman perempuan seumurannya. Juri dan Koji sama – sama berambut cokelat tua, namun rambut Koji agak bergelombang, sedangkan Ruka berambut sehitam malam seperti ayahnya. Jarak usia ketiganya masing – masing dua tahun.
     Koji datang dengan membawa dua mangkuk sup krim ayam dan labu kuning yang telah dihangatkan, lalu meletakkannya di meja. Kemudian Juri datang menyusul dengan membawa semangkuk sup lagi untuk dirinya sendiri, dan sepiring roti kering yang telah dibagi menjadi tiga. “Aku akan menambil minuman, sebentar.” Juri kembali ke dapur dan keluar dengan membawa tiga gelas sari apel.
     “Malam ini kakak akan sedikit sibuk, jadi sepertinya tidak bisa ikut membantu membuat lilin. Koji, tolong di-handle ya.”
     “Tidak masalah. Apakah ada masalah serius? Biasanya kakak baru pergi patroli setelah lewat jam sepuluh malam.” Koji mengiris roti dan mencelupkannya pada sup.
     “Apakah kakak akan menangkap naga?” Ruka menyahut, dengan nada suara ceria yang kekanak – kanakan.
     Juri menyesap minumannya, kemudian tertawa kecil. “Oh tidak tidak. Tapi naga itu yang akan menangkapmu jika kau tidur larut malam, Ruka.” Ia menatap adik bungsunya sambil tersenyum penuh kasih sayang, lalu beralih kepada Koji. “Nanti setelah makan malam kita bicara sebentar.” Mereka pun melanjutkan makan malamnya.

     Tiga puluh menit kemudian, makan malam pun usai. Ruka kembali ke kamarnya dengan wajah kusut, setelah merajuk kepada kakaknya untuk ditemani tidur, namun Juri tidak dapat memenuhinya malam ini. Juri dan Koji segara membereskan  peralatan makan, lalu pergi ke dapur untuk membersihkannya. Juri meletakkan peralatan makan yang dibawanya ke dalam bak cuci piring, kemudian mulai menyalakan kran air. Koji menyusul dan meletakkan peralatan yang ia bawa di samping bak cuci.
     “Tadi kakak bilang ingin mengatakan sesuatu, apakah ada hal yang terjadi di Perkumpulan?” Koji menyandarkan diri pada lemari dapur sambil memandang kakaknya.
     “Oh tidak, tidak. Sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar. Saat perjalanan pulang tadi kakak mendapatkan pesan dari perkumpulan, bahwa semalam gargoyle pengawas kota menangkap adanya aktifitas sihir gelap di sebelah utara, sekitar perbatasan dataran Matahari. Jadi malam ini kakak akan pergi lebih awal bersama Perkumpulan untuk meninjau perbatasan. Urusan lilin aku minta tolong padamu, ya.”
     “Aku tidak masalah tentang lilin, hanya saja aku mengkhawatirkan kakak, apakah ada kemungkinan itu adalah masalah yang gawat? Karena seingatku selama ini belum pernah ada masalah serius yang mengharuskan Perkumpulan untuk pergi lebih awal.” Koji menggerakkan kaki dengan gelisah.
     “Kakak juga tidak tahu, tapi semoga saja bukan hal yang gawat.” Juri menoleh menatap adiknya. “Tapi kau tak perlu khawatir berlebihan, ini bukan pertama kalinya kakak melakukan patroli, dan bukan pertama kalinya juga kakak menangani sihir gelap. Yang jelas, lakukanlah tugasmu dengan baik di rumah, dan jaga Ruka. Kakak akan pulang sebelum pagi.” Lalu Juri tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
     “Hmm baiklah kak, semoga berhasil.” Koji beranjak dari dapur, menuju ke dapur lilin.

     Juri melangkah memasuki kamarnya, menutup pintu, kemudian menyandarkan diri pada pintu kamarnya, seolah tidak ingin siapapun masuk dan mengganggunya. Tangannya merogoh ke dalam tas, mengeluarkan kembali sebuah kertas yang ia peroleh tadi, lalu menatapnya tanpa ekspresi. Kertas itu berwarna abu – abu dan permukaannya kusut karena dimasukkan ke dalam tas dengan terburu – buru. Kertas itu berisi pesan dengan kalimat singkat – singkat. Gaya tulisannya miring yang tidak terlalu rapi, khas tulisan tangan Ren, pengawas administrasi Perkumpulan.  

     Kepada anggota Perkumpulan Laporan dari Mito, Gargoyle pengawas kota. 19.30 semalam, aktifitas sihir gelap. Sebelah utara perbatasan dataran Matahari. Malam ini patroli lebih awal. 20.00, Headquarter.

     Juri mengenyakkan diri di atas tempat tidur, dan memejamkan mata sejenak. Ia mengingat kembali hari di mana pasukan Iblis hitam telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hari itu, pada pagi hari semua berjalan seperti biasanya. Ayahnya, Mori Schwartz pergi bekerja lebih awal – Mori adalah seorang penyihir tinggi di kota Emas, salah satu anggota penting pemerintahan – karena hari itu adalah awal minggu. Ibunya, Saki Schwartz mempersiapkan keperluan anak – anaknya yang akan pergi ke sekolah. Ibu Juri adalah seorang ahli botani, yang memiliki ketertarikan khusus pada tanaman obat. Ia mengembangkan tanaman – tanaman obatnya sendiri di halaman belakang rumah.
     Saat itu semuanya terasa sangat normal. Juri dan adik – adiknya pergi beraktifitas di sekolah seperti biasanya. Hingga pada siang hari menjelang sore, tiba – tiba langit berubah gelap, lalu segalanya terasa begitu salah. Juri mencium bau seperti karet terbakar yang disiram bensin, bau khas iblis gelap, pikirnya. Tidak semua orang menyadari hal itu, hanya orang – orang yang memiliki darah penyihir yang bisa. Kemudian ia bergegas berlari ke halaman sekolah, tampak semua orang telah berkumpul dengan panik. Sebagian orang yang tak memiliki jejak sihir hanya bisa menatap dengan ngeri, karena tidak benar – benar paham apa yang terjadi. Jauh di sebelah barat tampak asap hitam mengepul hingga seakan menembus hingga ke langit. Juri mengedarkan pandangannya, sekeliling Kota Emas dilingkupi asap gelap. Ketika memandang ke langit, tampak sekumpulan makhluk jelek bersayap hitam, bentuk badannya seperti laba – laba, dan mulutnya seperti corong dengan gigi – gigi tajam mencuat. Para guru memerintahkan kepada murid – muridnya dan semua warga sekolah untuk segera masuk untuk mengamankan diri. Semua orang melakukannya, termasuk Juri。
     Ketika keadaan sudah dirasa aman, semua orang diizinkan pulang. Juri mencari kedua adiknya, dan membawa mereka pulang. Sesampainya di rumah, mereka hanya bisa terpana. Sebagian rumahnya telah hancur dan kebun obat ibunya separuh terbakar. Mereka bergegas masuk dan mencari tanda – tanda keberadaan ibunya. Juri menemukan ibunya meringkuk di balik lemari dapur sambil gemetar, lalu berteriak ketika merasa ada yang mendekatinya. Ia menggenggam belati suci dan hampir melemparkannya, ketika Juri menghentikannya.
     “Stop! Stop! Ibu, ini aku, Juri! Anakmu!” Juri memandang ibunya dengan perasaan ngeri. Terlambat sedikit saja belati suci itu mungkin sudah bersarang di jantung, atau bahkan kepalanya. Saki mendongak dan mendapati anaknya berdiri tidak jauh darinya. Koji dan Ruka datang menghampiri, setelah mencoba mencari di lantai dua.
     “Juri, cepatlah kemasi barang – barang kalian, dan bawa adik – adikmu pergi jauh – jauh dari rumah ini, kalau perlu dari kota ini! Para iblis gelap menyerang kota, mereka ingin melenyapkan para penyihir putih berdarah murni. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian.” Saki berkata dengan suara terisak namun tegas, menatap mata Juri dan meremas pundak anak sulungnya itu.
     “Tapi, ibu – “
     “Sudah pergilah sekarang! Tidak ada waktu lagi!” Saki mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu menghampiri Juri, si anak tertua. “Bawalah ini, ini akan melindungi kalian dari pengaruh sihir gelap.” Saki menyerahkan sebuah benda bulat dengan sebuah rantai perak menjuntai. Benda itu adalah sebuah jam rantai model klasik yang di bagian tutupnya terdapat ukiran spiral melingkar, dan sebuah batu pualam segi empat berwarna merah mawar.
     Juri mengangguk tanda mengerti. Kemudian secepat kedipan mata, Juri menangkap kilatan cahaya kehijauan di sudut matanya, lalu ia melihat mata ibunya kosong tak lagi bernyawa. Juri menangkap tubuh ibunya yang lunglai, dan membaringkannya di lantai. Koji dan Ruka menjerit, lalu Koji menangkap adik bungsunya, memeluk adiknya yang terisak, dan membawanya berlari ke ruang depan. Juri mendongak, tampak sesosok iblis gelap yang berbeda dari yang dilihatnya di sekolah tadi. Ternyata pasukan Iblis gelap belum benar – benar pergi. Tubuh iblis gelap ini berbentuk seperti kucing besar bercakar, yang berdiri dengan dua kaki. Kepalanya seperti ikan, bergigi tajam dan berlendir. Seluruh tubuhnya berwarna hijau lumut, dengan garis – garis hitam di bagian perutnya.
     Dengan kecepatan yang terlatih, Juri mengambil belati suci yang tadi dipengang oleh ibunya, kemudian melompati meja pantry menuju si iblis. Juri mengayunkan tangan untuk menebas, namun tiba – tiba sebatang anak panah terbang melewati kepalanya dan menancap pada wajah si iblis, di antara kedua matanya. Juri menoleh dan mendapati ayahnya memegang busur panah. Mori masih mengenakan pakaian kerjanya, namun koyak di beberapa bagian, dan ujung lengan bajunya terbakar.
     “Ayah! Aku – “ Juri tidak sempat menyelesaikan perkataannya, karena ayahnya memotongnya.
     “Kota tidak aman untuk kalian! Sepasukan iblis gelap menyerang kantor beberapa jam lalu, jadi ayah bergegas pulang untuk menyelamatkan kalian! Mereka ingin melenyapkan ras murni, kalian harus pergi sekarang!” Mori Schwartz menatap anaknya dengan pandangan mata yang tidak bisa dibantah, lalu ia menghampiri istrinya yang tergeletak di lantai, dengan ekspresi terluka.
    Juri merasakan serangan perih yang datang mendadak dari pergelangan tangannya. Iblis itu belum mati. Iblis itu mencengkeram tangannya, membenamkan kuku dalam – dalam pada kulit Juri. Juri menjerit, lalu memotong tangan bercakar yang mencengkeram tangannya dengan belati suci. Si iblis mencicit kesakitan, lalu tangannya yang bebas mencakar wajah Juri. Juri terlempar ke samping dan jatuh tersungkur menghantam lemari kayu. Seluruh tubuhnya diliputi rasa nyeri dan perih. Ayah Juri melemparkan diri pada iblis gelap yang menyerang anaknya, dan menghujamkan sebuah pedang pendek menembus jantung iblis tersebut. Namun pada waktu yang bersamaan, cakar iblis tersebut menembus dadanya.
     “Cepat pergi sekarang juga!” Mori berteriak kepada anaknya, kemudian baik ayahnya maupun si iblis ambruk dan tidak bergerak lagi.
     Juri berdiri dengan susah payah sambil menahan perih di pergelangan tangan dan sakit di sekujur tubuhnya, lalu berlari tertatih menuju ruang depan dan mengajak kedua adiknya yang ketakutan untuk segera pergi meninggalkan kota. Mereka lalu pergi tanpa mengemasi barang, hanya membawa tas ransel yang dibawa ke sekolah tadi.

     Kejadian hari itu tidak pernah mereka bayangkan akan terjadi, dan tidak akan pernah pula mereka lupakan.

     Juri membuka mata, mengenyahkan segala ingatan tentang masa lalunya. Matanya lembab oleh air mata, dan ia menyekanya. Tidak, aku tidak boleh terjebak dalam masa lalu. Sekarang waktunya bekerja. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, dan mengganti pakaiannya dengan seragam resmi prajurit pengawas. Seragam prajurit pengawas terbuat dari bahan yang tebal namun elastis, dengan model yang menempel di badan untuk mempermudah gerak, lalu dirangkap dengan jaket kulit berwarna biru tua, yang dilengkapi sebuah pin bergambar pedang dan bintang yang melambangkan Perkumpulan. Juri mengenakan sepatu botnya, kemudian keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang bawah tanah.

つずく


NEWS - 恋を知らない君へ (Bahasa Indonesia Translated Lyrics)
serizawadindou

Omatase..
Akhirnya muncul juga postingan yang benar – benar postingan. LOL

Oke, kali ini aku mencoba untuk menerjemahkan satu lagu singel terbaru dari salah satu idol favoritku, NEWS, judulnya Koi wo Shiranai Kimi he. Singel ini diluncurkan pada tanggal 13 Juli 2016.

Lagu ini kuterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, dengan skill Bahasa Jepangku yang masih sangat terbatas, bisa dibilang grotal gratul (?), dengan menangkap liriknya melalui yang terdengar di telinga. X’D *latihan listening ceritanya* jadi seandainya ada kesalahan terjemahan atau salah lirik, silahkan dikoreksi. Koreksi ya, bukan dibully. Aku masih belajar, mungkin terjemahannya agak aneh, mohon dimaklumi, hehehe :’3  

*******

KEPADAMU, YANG TIDAK MENGETAHUI CINTA

Aa, hanya dirimu, janganlah menghilang
Kalau bisa kembali, ke musim panas itu..

Aku memandang langit yang biru
Kurentangkan tangan, entah untuk apa
Ke manapun tujuannya tidak masalah
Kalau ke langit tidak terjangkau ya..

Bunga matahari yang mencari matahari, dan aroma seperti musim panas yang menari
Kuambil sepotong ekspresi wajah yang melihat kembang api itu
Lalu kusimpan di dalam hatiku

Kupikir sampai kapan pun masa depan kita akan terus berlanjut
Kesedihan ini pun berlalu
Musim panas yang dilalui bersama,
diam – diam seakan memberitahu akhirnya

Aa, hanya dirimu, janganlah menghilang
Akan kuajak ke saat musim panas
Saling mencintai, dan tetap saling memeluk seperti hari itu

Aa, aku hanya memohon jangan pergi
Aku mohon sekali lagi
Kalau memang sesakit ini, lebih baik tetap berteman saja

Musim terlewati dengan cepat, waktu yang seperti mimpi pun terhenti
Di peron kereta yang tidak ada siapapun, aku menunggu kepulanganmu

Kupikir sampai kapan pun masa depan kita akan terus berlanjut
Seperti melewati hujan,
Musim panas yang kita cari bersama tidak akan kembali untuk kedua kalinya

Aa, hanya dirimu, janganlah menghilang
Akan kuajak ke saat musim panas
Saling mencintai, dan tetap saling memeluk seperti hari itu

Aa, Aku hanya memohon jangan pergi
Aku mohon sekali lagi
Kalau memang sesakit ini, lebih baik tetap berteman saja

*******


Hisashiburi?
serizawadindou
Hello Everyone!
I just want to say hi because I have no any post in my journal for a long time ahaha. Actually I have no idea what I have to post to blog. I want to be more active soon.
I will looking for any interesting topics, so just wait for my next journal!
See you next time!

Idol Hairclips?
serizawadindou
Orange!
haha.. I just bought a new orange blouse few days ago. It looks like a mini dress, with a cute collar.
Last night, suddenly I have an idea to make something match with the blouse. I decided to make a hairclip. I didn't make a design before, it spontaneously. I choose 2 sheets of flanel, orange and black, like my new blouse colour.. ^__^
I cut, cut, cut, and cut the flanel. I think it shaped like a flower? a big flower exactly. I made a big hairclip, big flower hairclip, like an idol group in Japan! But it's too simple if we compared it with the real idol hairclip. hehehee.. :3 It just made from flanels and coloured yarns. Don't you believe me? The hairclip make me fell like an idol! XD
Maybe I will join Morning Musume someday.. ahahaha.. :D

?

Log in